Suroto Tuai Kritik usai Debat Soal Kopdes Merah Putih di ROSI, Warganet Sebut Blunder

Bagikan
04 Agustus 2026 | Author :
Foto: Foto: Tangkapan layar Kompas TV
Suroto menjadi sorotan usai berdebat soal Koperasi Desa Merah Putih. Sejumlah warganet mengkritik argumennya, sementara perdebatan mengenai efektivitas Kopdes terus bergulir.
JAKARTA – Perdebatan mengenai program Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (Kopdes Merah Putih) dalam tayangan ROSI Kompas TV menjadi perhatian publik. Salah satu narasumber, Suroto, menuai beragam tanggapan di media sosial setelah beradu argumen dengan akademisi hukum tata negara Feri Amsari terkait konsep dan implementasi program tersebut.

Dalam diskusi itu, Suroto menjelaskan bahwa Kopdes Merah Putih merupakan implementasi dari amanat Pasal 33 Undang-Undang Dasar 1945. Menurutnya, koperasi dirancang sebagai instrumen untuk memperkuat demokrasi ekonomi sekaligus menciptakan pemerataan kesejahteraan masyarakat melalui pengelolaan ekonomi berbasis gotong royong.

Ia juga menyebut konsep tersebut berangkat dari gagasan "persemakmuran bersama", yang bertujuan agar manfaat pertumbuhan ekonomi tidak hanya dinikmati oleh kelompok tertentu, tetapi dapat dirasakan hingga tingkat desa melalui penguatan kelembagaan koperasi.

Di sisi lain, Feri Amsari menyampaikan sejumlah catatan kritis terhadap program tersebut. Ia mempertanyakan apakah Kopdes Merah Putih telah memenuhi prinsip-prinsip dasar koperasi, khususnya terkait partisipasi anggota, tata kelola, dan mekanisme pengambilan keputusan. Menurutnya, keberhasilan koperasi tidak cukup diukur dari jumlah yang dibentuk, tetapi juga dari kualitas pengelolaan dan manfaat nyata bagi masyarakat.

Perdebatan semakin menarik ketika Suroto menjelaskan rencana pemerintah menjadikan Kopdes Merah Putih sebagai pusat distribusi berbagai barang kebutuhan masyarakat, seperti LPG 3 kilogram, pupuk bersubsidi, beras SPHP, hingga minyak goreng rakyat. Menurutnya, langkah tersebut dapat memangkas rantai distribusi sehingga harga barang subsidi lebih terkendali.

Pernyataan-pernyataan yang disampaikan dalam diskusi tersebut kemudian ramai diperbincangkan di media sosial. Sejumlah warganet mengkritik argumentasi Suroto dan menilai beberapa penjelasannya kurang meyakinkan. Bahkan, sebagian pengguna media sosial menyebut penyampaiannya sebagai "blunder" dan mempertanyakan kesiapan konsep Kopdes Merah Putih dalam menjawab berbagai persoalan ekonomi di tingkat desa.

Namun, tidak sedikit pula yang memberikan pembelaan. Mereka menilai program Kopdes Merah Putih masih berada pada tahap awal implementasi sehingga efektivitasnya belum dapat dinilai secara utuh. Pendukung program juga berpendapat bahwa koperasi berpotensi memperkuat ekonomi desa apabila dijalankan dengan tata kelola yang baik dan pengawasan yang memadai.

Hingga kini, perdebatan mengenai Kopdes Merah Putih masih terus berlangsung di ruang publik. Program tersebut dinilai memiliki potensi untuk memperbaiki sistem distribusi dan memperkuat ekonomi kerakyatan, tetapi juga menghadapi tantangan dalam aspek pelaksanaan, transparansi, dan akuntabilitas. Diskusi di ROSI pun menjadi salah satu pemicu semakin luasnya perbincangan masyarakat mengenai arah pengembangan koperasi di Indonesia.
Baca Juga
• Nama 'Jakarta Baru' sebagai Nama Koalisi di Pilgub Jakarta, Ini Alasan Ridwan Kamil
• Usai Divonis, Noel Singgung Adanya Konsolidasi Politik, Ingatkan Pemerintahan Prabowo
• Sering Diajak Berdiskusi soal Sosok Caketum PPP, Gus Ipul: Masih Banyak Figur Lain
• Jokowi Resmi Keluarkan Perpres Aturan Main Izin Tambang Bagi Ormas Keagamaan
• Cak Imin Tunjuk Najmi Mumtaza Rabbany Jadi Ketua Harian DPP PKB, Ini Profilnya
#Suroto #KopdesMerahPutih #KoperasiDesa #Koperasi #FeriAmsari #DebatKopdes #BeritaNasional #EkonomiK
Ide Times adalah Portal Media Online yang menyajikan Berita Terkini dan Terbaru seputar Informasi, News Update, Politik, Ekonomi, Humaniora dan Gaya Hidup.