Kemenhut Imbau Masyarakat Waspadai Karhutla hingga Awal November 2026
Bagikan
17 September 2026 | Author :
Foto: Kepala OIKN, Menhut, dan Kepala BNPB tinjau lokasi karhutla di Bukit Tengkorak, Kaltim. (Foto: Humas OIKN)
Kemenhut imbau masyarakat waspadai karhutla hingga awal November 2026 akibat El Nino kuat dan mundurnya hujan alami. Enam provinsi jadi prioritas penanganan.
JAKARTA – Kementerian Kehutanan (Kemenhut) mengimbau masyarakat, petani, dan korporasi untuk tetap mewaspadai potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) hingga akhir Oktober atau awal November 2026. Imbauan ini menyusul kondisi kering yang masih akan berlangsung akibat pengaruh El Nino yang belum mereda.
Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni mengungkapkan bahwa berdasarkan pemutakhiran data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), datangnya hujan alami diperkirakan mundur dari jadwal semula. Ia menjelaskan bahwa revisi terbaru BMKG menunjukkan hujan alami yang tadinya diperkirakan turun awal Oktober kini baru diperkirakan terjadi pada akhir Oktober hingga awal November. Kondisi tersebut, menurutnya, membuat kewaspadaan terhadap karhutla perlu tetap dijaga dalam beberapa pekan ke depan mengingat intensitas El Nino masih berada pada kategori sangat kuat.
Data terbaru BMKG dalam Analisis Dinamika Atmosfer Dasarian I September 2026 mencatat sekitar 80,7 persen wilayah Indonesia, atau setara 564 Zona Musim (ZOM), telah memasuki musim kemarau. Bahkan, tercatat 1.637 titik di berbagai daerah mengalami hari tanpa hujan dalam kategori ekstrem, yakni lebih dari 60 hari berturut-turut tanpa hujan. Sementara itu, anomali suhu muka laut di wilayah Nino 3.4 tercatat mencapai positif 2,76 derajat Celsius, menegaskan bahwa fenomena El Nino masih berada pada level sangat kuat.
Menghadapi kondisi ini, Kemenhut menyatakan telah memperkuat pengendalian karhutla melalui berbagai langkah, mulai dari respons cepat di lapangan, pemadaman darat, water bombing, patroli udara, hingga pembasahan lahan gambut. Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) juga terus disesuaikan dengan kondisi meteorologis terkini, terutama menyusul peningkatan titik panas yang terpantau di wilayah Kalimantan.
Sejumlah wilayah tercatat menjadi prioritas penanganan karhutla tahun ini, di antaranya Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, dan Kalimantan Barat. Di Provinsi Riau misalnya, luas lahan yang terbakar sejak awal Januari hingga awal September 2026 telah mencapai sekitar 18.882 hektare. Sementara di Kalimantan Selatan, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat mencatat luas areal terbakar telah menembus lebih dari 12 ribu hektare, dengan puluhan ribu titik panas terpantau melalui sistem pemantauan satelit.
Secara nasional, data resmi dari Sistem Informasi Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan (SIPONGI) mencatat luas areal karhutla di Indonesia pada periode Januari–Juli 2026 mencapai lebih dari 202 ribu hektare, meningkat sekitar 69 persen dibandingkan periode yang sama pada 2025.
Dampak karhutla juga mulai dirasakan hingga ke sektor kesehatan dan lintas negara. Kabut asap yang dihasilkan dari kebakaran di Kalimantan dan Sumatra dilaporkan telah menyeberang hingga ke Malaysia, memicu penutupan ratusan sekolah di Sarawak, sekaligus meningkatkan kekhawatiran otoritas Singapura terhadap potensi memburuknya kualitas udara di negara tersebut.
Raja Juli menekankan pentingnya partisipasi aktif masyarakat dalam mencegah munculnya titik api baru selama periode kering berlangsung, sembari memastikan pemerintah akan terus memaksimalkan seluruh instrumen penanganan yang tersedia hingga musim kemarau benar-benar berakhir.
Ide Times adalah Portal Media Online yang menyajikan Berita Terkini dan Terbaru seputar Informasi, News Update, Politik, Ekonomi, Humaniora dan Gaya Hidup.