Kabut Asap Karhutla Selimuti Banjarbaru, Jarak Pandang Warga Menurun Drastis
Bagikan
21 Agustus 2026 | Author :
Foto: Kabut asap akibat karhutla menyelimuti jalan di Landasan Ulin, Banjarbaru/Antara
Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan menyelimuti Banjarbaru. Kondisi ini mengganggu jarak pandang pengguna jalan dan memicu kekhawatiran terhadap kualitas udara
BANJARBARU — Kabut asap tebal akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) menyelimuti sejumlah wilayah Kota Banjarbaru, Kalimantan Selatan. Kondisi tersebut mengganggu aktivitas masyarakat, terutama pengguna jalan, karena jarak pandang menurun dan aroma asap cukup menyengat.
Kabut asap dilaporkan terlihat pada Rabu, 19 Agustus 2026, di sejumlah kawasan seperti Landasan Ulin, Liang Anggang, Pengayuan hingga wilayah yang berbatasan dengan Kabupaten Tanah Laut. Sejumlah warga mengeluhkan kondisi tersebut melalui media sosial karena asap membuat perjalanan menjadi lebih sulit.
Di beberapa ruas jalan, kepulan asap yang cukup pekat membuat pengendara harus mengurangi kecepatan. Bahkan, sebagian pengendara memilih berhenti sementara karena jarak pandang dinilai terlalu terbatas untuk melanjutkan perjalanan dengan aman.
Kondisi tersebut juga dirasakan oleh warga yang berada di kawasan Pengayuan. Salah seorang pengendara menyebut jarak pandang saat asap pekat hanya sekitar satu meter. Selain mengganggu pandangan, paparan asap juga dikeluhkan menyebabkan mata terasa perih dan membuat sebagian warga mengalami sesak napas.
Penampakan kabut asap yang menyelimuti jalan raya Banjarbaru kemudian ramai beredar di media sosial. Dalam sejumlah rekaman, kawasan jalan terlihat tertutup asap sehingga kendaraan yang melintas tidak dapat terlihat dengan jelas dari jarak jauh. Laporan lain menyebut jarak pandang di sejumlah lokasi bahkan hanya sekitar 10 meter.
Persoalan kualitas udara turut menjadi perhatian. Data yang dikutip sejumlah laporan menunjukkan konsentrasi partikulat halus PM2.5 di Banjarbaru sempat mencapai 389,4 mikrogram per meter kubik pada Rabu pagi. Kondisi tersebut menunjukkan tingginya paparan partikel di udara dan meningkatkan kekhawatiran terhadap dampaknya bagi masyarakat.
Kabut asap ini muncul ketika aktivitas karhutla di Kalimantan Selatan masih menjadi perhatian pemerintah. Dinas Sosial Provinsi Kalimantan Selatan bahkan memperkuat penanganan karhutla dengan memfokuskan personel di wilayah utara ring satu Bandara Internasional Syamsudin Noor, Banjarbaru, sebagai bagian dari upaya mengantisipasi dampak sosial akibat kebakaran.
Selain mengganggu mobilitas masyarakat, kabut asap juga berpotensi memberikan dampak terhadap kesehatan. Warga yang berada di kawasan terdampak mengalami keluhan seperti mata perih, batuk hingga gangguan pernapasan. Karena itu, masyarakat diimbau membatasi aktivitas di luar ruangan ketika kondisi asap semakin pekat dan menggunakan masker sebagai perlindungan tambahan.
Gangguan akibat karhutla juga mulai berpengaruh terhadap aktivitas transportasi udara di kawasan Kalimantan. Kondisi kabut asap di sejumlah daerah menyebabkan jarak pandang menjadi salah satu faktor yang harus diperhitungkan dalam menentukan keamanan penerbangan. Di Bandara Singkawang, misalnya, seluruh penerbangan pada Jumat, 21 Agustus 2026, dibatalkan karena jarak pandang berada di bawah standar keselamatan.
Situasi tersebut menunjukkan bahwa karhutla tidak hanya berdampak pada kawasan hutan dan lahan yang terbakar, tetapi juga dapat mengganggu kehidupan masyarakat, transportasi hingga kesehatan. Pemantauan kondisi udara dan penanganan titik api menjadi penting untuk mencegah kabut asap semakin meluas.
Masyarakat Banjarbaru diharapkan tetap berhati-hati saat berkendara, terutama ketika jarak pandang menurun. Warga juga disarankan mengikuti informasi resmi mengenai perkembangan karhutla dan kualitas udara agar dapat menyesuaikan aktivitas selama kabut asap masih menyelimuti wilayah tersebut.
Ide Times adalah Portal Media Online yang menyajikan Berita Terkini dan Terbaru seputar Informasi, News Update, Politik, Ekonomi, Humaniora dan Gaya Hidup.