Rupiah Melemah ke Rp17.414 per Dolar AS, Pasar Dibayangi Konflik Global

Bagikan
14 Mei 2026 | Author :
Foto: Pegawai menunjukkan uang dolar AS dan rupiah di gerai penukaran uang di Jakarta. Foto: Bisnis/Himawan L. Nugraha.
Rupiah melemah hingga Rp17.414 per dolar AS akibat penguatan dolar dan memanasnya konflik global. Investor menanti arah kebijakan terbaru The Fed.
Nilai tukar rupiah kembali berada dalam tekanan terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Pada perdagangan terbaru, mata uang Garuda ditutup melemah hingga menyentuh level Rp17.414 per dolar AS di tengah meningkatnya ketidakpastian ekonomi dan tensi geopolitik global.

Pelemahan rupiah dipicu oleh penguatan dolar AS yang kembali menjadi aset safe haven pilihan investor dunia. Memanasnya konflik geopolitik di Timur Tengah serta kekhawatiran pasar terhadap arah kebijakan suku bunga bank sentral AS, The Federal Reserve (The Fed), menjadi faktor utama yang membebani pergerakan mata uang negara berkembang.

Berdasarkan data perdagangan, rupiah melemah sekitar 32 poin dibandingkan sesi sebelumnya. Tekanan tersebut terjadi seiring meningkatnya permintaan dolar AS di pasar global akibat investor memilih instrumen yang dinilai lebih aman.

Analis pasar keuangan menilai konflik geopolitik yang terus berkembang membuat pelaku pasar cenderung menghindari aset berisiko. Kondisi ini turut mendorong kenaikan harga minyak mentah dunia yang berdampak langsung pada negara importir energi seperti Indonesia.

Kenaikan harga minyak dinilai dapat memperbesar kebutuhan devisa untuk impor dan berpotensi memperlebar defisit transaksi berjalan. Situasi tersebut membuat rupiah semakin rentan mengalami tekanan di pasar valuta asing.

Selain faktor geopolitik, sikap The Fed yang diperkirakan masih mempertahankan suku bunga tinggi turut memperkuat posisi dolar AS. Ekspektasi tersebut memicu arus modal keluar dari pasar emerging markets, termasuk Indonesia.

Tidak hanya rupiah, sejumlah mata uang Asia lain seperti won Korea Selatan, rupee India, dan baht Thailand juga tercatat mengalami pelemahan terhadap dolar AS.

Di tengah kondisi tersebut, Bank Indonesia terus melakukan langkah stabilisasi untuk menjaga pergerakan rupiah tetap terkendali. Bank sentral disebut aktif melakukan intervensi di pasar valas serta menjaga likuiditas guna meredam volatilitas.

Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo sebelumnya menegaskan bahwa stabilitas nilai tukar tetap menjadi prioritas utama di tengah tekanan global yang meningkat. BI juga terus memperkuat koordinasi dengan pemerintah untuk menjaga stabilitas ekonomi nasional.

Meski begitu, pelaku pasar masih mewaspadai potensi tekanan lanjutan terhadap rupiah dalam beberapa waktu ke depan. Investor kini menunggu rilis data inflasi Amerika Serikat dan sinyal terbaru dari The Fed yang diperkirakan akan memengaruhi arah pasar global.
Baca Juga
• Harga Minyak Dunia Melonjak Mendekati USD 110, Dipicu Ketegangan Iran–Israel
• Rupiah Melemah ke Rp17.414 per Dolar AS, Pasar Dibayangi Konflik Global
• Tom Lembong: Sosok Visioner di Balik Transformasi Ekonomi Digital Indonesia
• Vietnam Segera Jadi Emerging Market, Indonesia Kapan Nyusul?
• Iran Naikkan Upah Minimum Lebih dari 60 Persen di Tengah Ketegangan Perang dan Inflasi Tinggi
#Rupiah #DolarAS #EkonomiIndonesia #NilaiTukar #BankIndonesia #TheFed #Geopolitik #PasarGlobal #Beri
Ide Times adalah Portal Media Online yang menyajikan Berita Terkini dan Terbaru seputar Informasi, News Update, Politik, Ekonomi, Humaniora dan Gaya Hidup.