Bendera bajak laut Straw Hat bukan sekadar elemen hiburan. Dalam cerita One Piece, bendera tersebut melambangkan kebebasan, pemberontakan terhadap ketidakadilan, dan tekad memperjuangkan mimpi.
Jakarta – Menjelang peringatan Hari Ulang Tahun ke-80 Republik Indonesia, sebuah fenomena unik sekaligus kontroversial mencuat di berbagai wilayah Indonesia. Sejumlah warga, khususnya dari kalangan muda, mengibarkan bendera bajak laut "Straw Hat" milik karakter utama anime One Piece, Monkey D. Luffy, sebagai bentuk protes simbolik terhadap kondisi sosial dan ekonomi di tanah air.
Fenomena ini pertama kali viral di media sosial sejak akhir Juli 2025, ketika beberapa pengguna TikTok dan X (Twitter) mem-posting video pengibaran bendera bergambar tengkorak bertopi jerami di tiang bambu, lengkap dengan narasi protes terhadap ketimpangan sosial, sulitnya akses pendidikan dan pekerjaan, serta kekecewaan terhadap korupsi dan janji-janji pemerintah yang dianggap tak terealisasi.
Simbol Perlawanan Pop Culture
Bendera bajak laut Straw Hat bukan sekadar elemen hiburan. Dalam cerita One Piece, bendera tersebut melambangkan kebebasan, pemberontakan terhadap ketidakadilan, dan tekad memperjuangkan mimpi. Nilai-nilai inilah yang kini dirasakan relevan oleh sebagian generasi muda Indonesia.
"Ini bukan tentang Jepang atau anime. Ini tentang simbol yang merepresentasikan keberanian menentang ketidakadilan. Kami mencintai Indonesia, justru karena itu kami bersuara," ujar Arya (22), seorang mahasiswa yang ikut serta dalam aksi simbolik tersebut di Yogyakarta.
Bentuk Kekecewaan yang Kreatif?
Pakar budaya pop dan sosiologi dari Universitas Indonesia, Dr. Ayu Lestari, melihat tren ini sebagai ekspresi frustrasi yang terbungkus dalam bahasa budaya pop global. “Anak muda kini lebih ekspresif melalui simbol-simbol yang dekat dengan mereka. Saat mereka merasa tidak didengar, mereka mencari kanal ekspresi baru—bahkan lewat bendera anime,” jelasnya.
Menurutnya, ini juga bisa dibaca sebagai bentuk protes non-kekerasan, dengan pesan yang lebih halus namun kuat.
Reaksi Pemerintah dan Masyarakat
Hingga saat ini, belum ada tanggapan resmi dari pemerintah pusat terkait fenomena ini. Namun, sejumlah pejabat daerah mengimbau agar perayaan HUT RI tetap menjunjung tinggi simbol-simbol kenegaraan, terutama bendera Merah Putih sebagai lambang resmi bangsa.
Sementara itu, sebagian masyarakat menganggap tindakan ini kurang etis, bahkan melecehkan momen sakral kemerdekaan. “Saya paham anak muda ingin bersuara, tapi bukan berarti kita bisa seenaknya mengganti simbol negara dengan tokoh kartun,” ujar Hendra (45), seorang veteran pejuang reformasi 1998.
Antara Protes dan Nasionalisme Baru
Fenomena bendera One Piece ini membuka diskusi lebih dalam tentang cara baru generasi muda mengekspresikan nasionalisme mereka—tidak selalu dalam bentuk seremonial, tapi juga melalui kritik dan tuntutan perubahan.
Dalam konteks HUT RI, pertanyaannya bukan hanya soal siapa yang mengibarkan Merah Putih, tapi juga siapa yang benar-benar memperjuangkan semangat kemerdekaan dalam kehidupan nyata: keadilan, kebebasan, dan pemerintahan yang berpihak pada rakyat.
Ide Times adalah Portal Media Online yang menyajikan Berita Terkini dan Terbaru seputar Informasi, News Update, Politik, Ekonomi, Humaniora dan Gaya Hidup.