Komisi Ojol Turun Jadi 8 Persen, Kinerja Bisnis Gojek Justru Tertekan
Bagikan
30 Oktober 2026 | Author :
Foto: Sufmi Dasco Ahmad menyampaikan keterangan terkait kebijakan komisi ojol di Gedung DPR RI, Jakarta, Selasa (23/6/2026). (Tangkapan layar YouTube/Sin Po
Penerapan komisi ojol maksimal 8 persen berdampak pada kinerja bisnis mobilitas Gojek. GoTo melaporkan EBITDA turun 16 persen pada kuartal III 2026.
Jakarta – Kebijakan pembatasan komisi aplikator ojek online (ojol) maksimal 8 persen mulai menunjukkan dampak terhadap kinerja bisnis transportasi daring. PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) melaporkan laba operasional bisnis mobilitas Gojek turun 16 persen secara tahunan pada kuartal III 2026.
Berdasarkan laporan kinerja perusahaan, EBITDA yang disesuaikan atau laba sebelum bunga, pajak, depresiasi, dan amortisasi pada segmen mobilitas tercatat sebesar Rp159 miliar. Angka tersebut lebih rendah dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
GoTo menyebut penerapan batas komisi 8 persen pada layanan transportasi roda dua atau GoRide sejak 1 Juli 2026 menjadi salah satu faktor yang menekan kinerja segmen tersebut.
Dalam laporan perusahaan yang dikutip Katadata pada 30 Oktober 2026, dampak kebijakan komisi terhadap layanan GoRide mencapai Rp150 miliar selama kuartal III. Perusahaan juga memperkirakan dampaknya dapat mencapai Rp300 miliar sepanjang 2026.
Komisi 8 Persen Mengubah Skema Bisnis Aplikator
Kebijakan pembatasan komisi aplikator merupakan bagian dari upaya pemerintah memperbaiki kesejahteraan mitra pengemudi ojol.
Sebelumnya, perusahaan aplikasi dapat mengambil potongan hingga 20 persen dari pendapatan pengemudi. Melalui kebijakan baru, komisi untuk layanan transportasi penumpang roda dua dibatasi maksimal 8 persen.
Ketentuan tersebut diumumkan DPR RI pada 23 Juni 2026 dan mulai diterapkan oleh Gojek serta Grab pada 1 Juli 2026.
Kebijakan ini diharapkan memberikan porsi pendapatan lebih besar kepada pengemudi. Dengan berkurangnya potongan aplikasi, mitra pengemudi diharapkan memperoleh pendapatan yang lebih baik dari setiap perjalanan.
Namun, perubahan struktur komisi juga membawa konsekuensi terhadap model bisnis perusahaan aplikator yang selama ini mengandalkan pendapatan dari biaya layanan.
Bisnis Pengantaran dan Keuangan Digital Tumbuh
Di tengah tekanan pada bisnis transportasi penumpang, sejumlah segmen usaha GoTo masih mencatatkan pertumbuhan.
Layanan pengiriman barang dan makanan membukukan EBITDA yang disesuaikan sebesar Rp227 miliar pada kuartal III 2026. Nilai tersebut meningkat 20 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Sementara itu, bisnis layanan keuangan digital GoPay juga memberikan kontribusi terhadap kinerja grup.
Secara keseluruhan, GoTo mencatatkan laba bersih Rp441 miliar pada kuartal III 2026. Capaian tersebut berbalik dari kerugian Rp255 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Perusahaan juga menaikkan target EBITDA yang disesuaikan untuk 2026 menjadi Rp3,5 triliun hingga Rp3,7 triliun, dari target sebelumnya Rp3,2 triliun hingga Rp3,4 triliun.
Kesejahteraan Pengemudi Menjadi Ukuran Kebijakan
Penurunan komisi aplikator menjadi 8 persen merupakan perubahan kebijakan yang berpengaruh terhadap hubungan antara perusahaan platform dan mitra pengemudi.
Meski demikian, keberhasilan kebijakan tersebut tidak cukup diukur dari besarnya potongan aplikasi yang berkurang. Dampaknya terhadap pendapatan bersih pengemudi juga perlu diperhatikan.
Biaya operasional kendaraan, harga bahan bakar, perawatan, waktu tunggu pesanan, serta persaingan mendapatkan pelanggan turut memengaruhi penghasilan mitra.
Di sisi lain, keberlanjutan bisnis perusahaan aplikasi juga menjadi faktor yang perlu diperhitungkan agar layanan transportasi daring tetap berjalan.
Dengan demikian, kebijakan komisi 8 persen menghadirkan tantangan bagi kedua pihak. Pemerintah perlu memastikan perlindungan terhadap pengemudi berjalan efektif, sementara perusahaan aplikator harus menyesuaikan model bisnisnya terhadap perubahan regulasi.
Dampak jangka panjang kebijakan ini pada akhirnya perlu dilihat dari dua indikator utama, yakni peningkatan pendapatan dan perlindungan mitra pengemudi serta keberlanjutan ekosistem transportasi berbasis aplikasi.
Ide Times adalah Portal Media Online yang menyajikan Berita Terkini dan Terbaru seputar Informasi, News Update, Politik, Ekonomi, Humaniora dan Gaya Hidup.