Indonesia Menuju KTT BRICS di New Delhi, Prabowo Hadapi Agenda Ekonomi dan Geopolitik

Bagikan
10 September 2026 | Author :
Foto: Biro Informasi Pers
Indonesia bersiap mengikuti KTT BRICS ke-18 di New Delhi pada 12–13 September 2026 dengan agenda ekonomi, perdagangan, teknologi, dan geopolitik.
JAKARTA — Indonesia bersiap mengikuti Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) BRICS ke-18 yang akan digelar di New Delhi, India, pada 12–13 September 2026. Presiden Prabowo Subianto dijadwalkan menghadiri pertemuan tersebut bersama para pemimpin negara anggota BRICS lainnya.

KTT BRICS tahun ini berlangsung di tengah situasi geopolitik dan ekonomi global yang penuh tekanan, mulai dari konflik Rusia-Ukraina, ketegangan di kawasan Asia Barat, hingga kebijakan perdagangan dan tarif Amerika Serikat.

India sebagai tuan rumah sekaligus pemegang keketuaan BRICS 2026 mengusung tema “Building for Resilience, Innovation, Cooperation and Sustainability”. Agenda pertemuan diarahkan pada penguatan ketahanan negara-negara anggota melalui kerja sama di bidang ekonomi, perdagangan, energi, pangan, kesehatan, teknologi, hingga reformasi tata kelola global.

Indonesia Jadi Anggota Penuh BRICS

KTT di New Delhi menjadi salah satu forum penting bagi Indonesia setelah resmi bergabung sebagai anggota penuh BRICS pada Januari 2025.

Indonesia sebelumnya telah mengikuti KTT BRICS di Rio de Janeiro, Brasil, pada Juli 2025. Dalam forum tersebut, Prabowo mendorong semangat kerja sama negara-negara berkembang dan mengaitkannya dengan semangat Bandung dalam menghadapi ketegangan global serta perang dagang.

Dengan keanggotaan Indonesia, BRICS kini terdiri atas 11 negara, yakni Brasil, Rusia, India, China, Afrika Selatan, Mesir, Ethiopia, Iran, Uni Emirat Arab, Arab Saudi, dan Indonesia. Kelompok tersebut memiliki bobot ekonomi dan demografi yang cukup besar dalam peta global.

Indonesia menjadi negara Asia Tenggara pertama yang masuk sebagai anggota penuh BRICS. Posisi tersebut memberikan peluang bagi pemerintah untuk memperluas kerja sama ekonomi sekaligus memperkuat diplomasi Indonesia dengan negara-negara berkembang.

Agenda Ekonomi Jadi Perhatian

Salah satu agenda utama yang akan dibahas dalam KTT BRICS adalah penguatan ketahanan ekonomi menghadapi berbagai gangguan global.

India memasukkan isu perdagangan, investasi, ketahanan rantai pasok, keamanan pangan dan energi sebagai bagian penting dari agenda keketuaannya. Selain itu, kerja sama teknologi, kesehatan, pertanian dan penanggulangan bencana juga menjadi perhatian.

Bagi Indonesia, forum tersebut dapat dimanfaatkan untuk memperluas pasar ekspor dan investasi, sekaligus memperkuat kerja sama ekonomi dengan negara-negara anggota BRICS.

Pengamat Hubungan Internasional Universitas Budi Luhur Andrea Abdul Rahman Azzqy menilai pemerintah perlu memastikan keanggotaan Indonesia menghasilkan manfaat ekonomi yang konkret.

Menurutnya, BRICS seharusnya tidak berhenti sebagai forum diplomasi, tetapi menjadi instrumen yang memberikan manfaat langsung bagi kepentingan ekonomi Indonesia.

Hal tersebut menjadi penting karena Indonesia menghadapi kebutuhan untuk memperluas pasar di tengah ketidakpastian perdagangan global.

Dorongan Kerja Sama Pembayaran Digital

Salah satu isu ekonomi yang mencuat menjelang KTT adalah rencana memperkuat sistem pembayaran lintas negara di antara anggota BRICS.

India disebut mendorong pembahasan mengenai kemungkinan menghubungkan mata uang digital bank sentral atau central bank digital currencies (CBDC) antarnegara anggota untuk mempermudah transaksi lintas batas.

Reuters melaporkan proposal tersebut menjadi bagian dari agenda yang dibahas menjelang pertemuan di New Delhi. Tujuannya adalah membuat transaksi perdagangan lintas negara menjadi lebih cepat dan efisien.

Namun, implementasinya tidak sederhana. Perbedaan kebijakan moneter, tingkat adopsi mata uang digital, kondisi geopolitik, serta kebutuhan membangun infrastruktur pembayaran yang kompatibel menjadi sejumlah tantangan.

Karena itu, pembahasan di KTT BRICS diperkirakan lebih berfokus pada penguatan konektivitas sistem pembayaran dan kerja sama keuangan daripada membentuk satu mata uang bersama.

Tantangan Geopolitik BRICS

Selain agenda ekonomi, KTT BRICS juga berlangsung dalam situasi geopolitik yang kompleks.

Perang Rusia-Ukraina, konflik di Asia Barat, ketegangan hubungan Amerika Serikat dan China, serta kebijakan tarif perdagangan menjadi latar belakang pertemuan para pemimpin BRICS.

Perbedaan kepentingan antaranggota juga menjadi tantangan tersendiri. Salah satu persoalan yang disorot menjelang KTT adalah hubungan Iran dan Uni Emirat Arab di tengah konflik Asia Barat. Kondisi tersebut dapat mempersulit upaya mencapai konsensus karena BRICS bekerja berdasarkan prinsip kesepakatan bersama.

Di sisi lain, India juga menghadapi tantangan untuk menjaga keseimbangan hubungan dengan China dan Rusia sekaligus mempertahankan hubungan strategisnya dengan negara-negara Barat.

Indonesia memiliki posisi yang berbeda. Sebagai negara dengan politik luar negeri bebas aktif, Jakarta memiliki kepentingan untuk menjaga hubungan dengan berbagai kekuatan ekonomi dan politik tanpa terjebak dalam blok tertentu.

Indonesia Didorong Perjuangkan Kepentingan Nasional

Keikutsertaan Indonesia di KTT BRICS tidak hanya berkaitan dengan posisi diplomatik, tetapi juga peluang memperjuangkan kepentingan ekonomi nasional.

Kerja sama perdagangan, investasi, energi, teknologi, industri, pangan dan penguatan rantai pasok menjadi sektor yang berpotensi dimanfaatkan Indonesia.

Jakarta juga dapat menggunakan forum BRICS untuk mendorong agenda negara-negara berkembang dalam reformasi lembaga multilateral serta memperkuat suara Global South.

India sendiri menempatkan reformasi tata kelola global dan penguatan multilateralisme sebagai salah satu agenda penting dalam keketuaannya tahun ini.

Dengan posisi sebagai anggota baru, Indonesia memiliki kesempatan memperkenalkan kepentingan nasional sekaligus membangun koalisi dengan negara-negara lain yang memiliki kepentingan serupa.

KTT Digelar 12–13 September

KTT BRICS ke-18 akan berlangsung di Bharat Mandapam, New Delhi, pada 12–13 September 2026.

Pada hari pertama, para pemimpin negara anggota dijadwalkan mengikuti pembahasan mengenai tata kelola global dan penguatan multilateralisme. Agenda kemudian dilanjutkan dengan kegiatan yang berkaitan dengan inovasi serta pertemuan antarpemimpin.

Pada hari kedua, pembahasan akan mencakup tema ketahanan, inovasi, kerja sama dan keberlanjutan untuk mendorong pertumbuhan global yang inklusif. KTT dijadwalkan ditutup dengan penerbitan New Delhi Declaration yang memuat hasil dan komitmen pertemuan.

Menjelang pelaksanaan KTT, pemerintah India juga memperketat pengamanan di ibu kota. Sekitar 30.000 personel keamanan dilaporkan disiapkan untuk mengamankan kedatangan para pemimpin negara dan rangkaian kegiatan pertemuan.

Bagi Indonesia, kehadiran Prabowo di New Delhi menjadi kesempatan untuk memperkuat posisi Indonesia di tengah perubahan peta ekonomi dan geopolitik dunia.

Tantangan berikutnya adalah memastikan keanggotaan BRICS tidak berhenti pada simbol diplomasi, tetapi mampu diterjemahkan menjadi kerja sama yang memberikan manfaat nyata bagi perdagangan, investasi, teknologi dan kepentingan ekonomi Indonesia.
Baca Juga
• Konflik Rusia–Ukraina Belum Mereda, Dunia Hadapi Krisis Geopolitik
• Banjir Bandang Nepal Tewaskan Hampir 1.000 Orang, Ribuan Masih Hilang
• Netanyahu Dikecam Rakyatnya karena Hadiri Pesta Henna Putranya saat Tentara Israel Tewas
• RI Dan Thailand Komitmen Perangi Judol, Narkotika, hingga Perdagangan Manusia
• Pangkalan Militer Inggris di Siprus Ditembak Drone, Ketegangan Konflik Meluas
#BRICS #KTTBRICS #BRICS2026 #Indonesia #PrabowoSubianto #NewDelhi #India #EkonomiGlobal #Geopolitik
Ide Times adalah Portal Media Online yang menyajikan Berita Terkini dan Terbaru seputar Informasi, News Update, Politik, Ekonomi, Humaniora dan Gaya Hidup.