Korban Meninggal Gempa NTT Tetap 111 Orang, Ribuan Gempa Susulan Masih Terjadi
Bagikan
29 Agustus 2026 | Author :
Foto: Pengungsi gempa NTT berada di bawah tenda darurat di Nagekeo/Antara
BNPB mencatat korban meninggal akibat gempa NTT mencapai 111 orang. Ribuan gempa susulan masih terjadi dan masa tanggap darurat diperpanjang
JAKARTA – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan jumlah korban meninggal dunia akibat gempa bumi bermagnitudo 7,7 yang mengguncang wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT) masih berada di angka 111 orang. Hingga Sabtu, 29 Agustus 2026, belum terdapat penambahan jumlah korban jiwa dari bencana tersebut.
Gempa utama yang mengguncang kawasan Pulau Flores terjadi pada 15 Agustus 2026. Setelah gempa utama, aktivitas seismik di wilayah terdampak masih berlangsung dan ditandai dengan ribuan gempa susulan.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton SP Panjaitan, menyampaikan bahwa korban meninggal berasal dari sejumlah wilayah di Flores. Berdasarkan pembaruan data BNPB, korban jiwa paling banyak tercatat di Kabupaten Manggarai, disusul Manggarai Timur dan Nagekeo.
Korban Didominasi Perempuan dan Lansia
BNPB juga mencatat adanya karakteristik tertentu dari korban meninggal akibat gempa NTT. Dari total 111 korban jiwa, sekitar 56,4 persen merupakan perempuan, sedangkan korban laki-laki mencapai 43,6 persen.
Jika dilihat berdasarkan kelompok usia, korban meninggal paling banyak berasal dari kelompok lanjut usia. Setelah lansia, korban berasal dari kelompok dewasa, kemudian anak-anak dan remaja, serta kelompok balita dan batita.
Data tersebut menunjukkan bahwa kelompok rentan menjadi salah satu kelompok yang paling terdampak ketika gempa terjadi, terutama di wilayah yang mengalami kerusakan bangunan dan fasilitas tempat tinggal.
Ribuan Gempa Susulan Masih Mengguncang NTT
Selain persoalan korban jiwa, aktivitas gempa susulan masih menjadi perhatian pemerintah dan masyarakat. BNPB menyebut hingga 29 Agustus 2026 telah terjadi 9.278 gempa susulan setelah gempa utama.
Kekuatan gempa susulan tersebut bervariasi, mulai dari magnitudo 1 hingga yang terbesar mencapai magnitudo 6,2. Dari ribuan gempa susulan itu, sebanyak 153 kali dilaporkan dapat dirasakan oleh masyarakat.
Sebelumnya, BNPB memperkirakan aktivitas gempa susulan masih dapat berlangsung selama beberapa pekan setelah gempa utama. Kondisi tersebut membuat masyarakat di wilayah terdampak tetap diminta meningkatkan kewaspadaan, terutama terhadap bangunan yang mengalami kerusakan.
Jumlah Pengungsi Kembali Bertambah
Di tengah berlanjutnya aktivitas gempa, jumlah warga yang mengungsi juga mengalami perubahan setelah pemerintah melakukan pembaruan dan validasi data di lapangan.
BNPB melaporkan adanya tambahan 16.394 pengungsi berdasarkan hasil pemutakhiran data, terutama di Kabupaten Ngada. Setelah proses validasi tersebut, jumlah warga yang tercatat mengungsi menjadi lebih akurat.
Perubahan jumlah pengungsi tersebut tidak serta-merta menunjukkan adanya gelombang pengungsian baru akibat gempa susulan. BNPB menjelaskan bahwa peningkatan angka terutama berkaitan dengan proses pendataan dan validasi warga terdampak.
Masa Tanggap Darurat Diperpanjang
Pemerintah Provinsi NTT juga memperpanjang masa tanggap darurat penanganan gempa hingga 12 September 2026. Perpanjangan dilakukan karena aktivitas gempa susulan masih terjadi di sejumlah wilayah terdampak.
Perpanjangan masa tanggap darurat diharapkan dapat memberikan waktu tambahan bagi pemerintah dan tim penanganan bencana untuk melakukan pendataan, pemulihan fasilitas umum, distribusi bantuan, serta memastikan kebutuhan dasar masyarakat terdampak tetap terpenuhi.
BNPB juga mengimbau warga yang masih merasa khawatir untuk memanfaatkan pos pengungsian terpusat. Di lokasi tersebut tersedia berbagai kebutuhan dasar, mulai dari distribusi logistik, air bersih, fasilitas sanitasi, dapur umum hingga layanan kesehatan.
Dengan jumlah korban meninggal yang masih mencapai 111 orang dan ribuan gempa susulan yang terus terjadi, penanganan dampak gempa NTT masih menjadi perhatian pemerintah. Masyarakat di wilayah terdampak diharapkan tetap mengikuti informasi resmi dari pemerintah dan lembaga terkait serta tidak mudah mempercayai informasi yang belum terverifikasi.
Ide Times adalah Portal Media Online yang menyajikan Berita Terkini dan Terbaru seputar Informasi, News Update, Politik, Ekonomi, Humaniora dan Gaya Hidup.