IHSG Anjlok 7,03 Persen Sepekan, Kapitalisasi Pasar BEI Susut Rp721 Triliun

Bagikan
31 Oktober 2026 | Author :
Foto: Layar pergerakan IHSG di Bursa Efek Indonesia/ValidNewsID/Fikhri Fathoni
IHSG melemah 7,03 persen sepanjang 26–30 Oktober 2026. Kapitalisasi pasar BEI menyusut Rp721 triliun menjadi Rp8.862 triliun.
JAKARTA — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melemah 7,03 persen sepanjang perdagangan 26–30 Oktober 2026. Penurunan tersebut diikuti penyusutan kapitalisasi pasar Bursa Efek Indonesia (BEI) sebesar Rp721 triliun menjadi Rp8.862 triliun.

Berdasarkan data perdagangan BEI yang dilaporkan sejumlah media pada Sabtu (31/10/2026), IHSG ditutup di level 5.057,050 pada akhir pekan. Posisi tersebut turun dari penutupan pekan sebelumnya yang mencapai 5.439,258.

Kapitalisasi pasar BEI juga turun 7,52 persen dari Rp9.583 triliun menjadi Rp8.862 triliun. Penyusutan ini mencerminkan penurunan nilai pasar saham yang tercatat di bursa selama periode tersebut.

Aktivitas Perdagangan Ikut Melemah

Tekanan di pasar saham turut terlihat dari penurunan berbagai indikator perdagangan. Rata-rata nilai transaksi harian BEI turun 29,49 persen menjadi Rp14,339 triliun, dibandingkan Rp20,34 triliun pada pekan sebelumnya.

Rata-rata frekuensi transaksi harian juga menyusut 20,99 persen menjadi 1,54 juta kali transaksi. Pada periode sebelumnya, frekuensi perdagangan tercatat mencapai 1,95 juta kali transaksi.

Sementara itu, rata-rata volume transaksi harian turun 18,85 persen menjadi 32,428 miliar saham, dari sebelumnya 39,959 miliar saham.

Penurunan pada indeks, nilai transaksi, frekuensi, dan volume perdagangan menunjukkan aktivitas pasar yang lebih rendah dibandingkan pekan sebelumnya.

Investor Asing Masih Catatkan Jual Bersih

Tekanan pasar juga terlihat dari transaksi investor asing. Pada perdagangan Jumat (30/10/2026), investor asing mencatatkan penjualan bersih atau net sell sebesar Rp138,71 miliar.

Secara kumulatif sejak awal 2026 hingga akhir Oktober, nilai jual bersih investor asing di pasar saham Indonesia mencapai Rp97,921 triliun.

Arus dana asing menjadi salah satu indikator yang diperhatikan pelaku pasar karena dapat memengaruhi likuiditas dan pergerakan harga saham. Namun, perubahan IHSG tidak dapat dijelaskan hanya melalui transaksi investor asing, sebab pergerakan indeks juga dipengaruhi kondisi ekonomi, kinerja emiten, dan sentimen global.

Sentimen Pasar Masih Perlu Dicermati

Pelemahan IHSG terjadi di tengah perhatian pelaku pasar terhadap perkembangan kebijakan indeks global MSCI dan prospek arus modal asing. Sejumlah analis juga menyoroti pengaruh kondisi nilai tukar rupiah serta kebijakan suku bunga terhadap sentimen investasi.

Menurut pemberitaan Liputan6.com pada 31 Oktober 2026, analis pasar turut mencermati usulan perubahan klasifikasi pasar saham Indonesia oleh MSCI serta arah kebijakan suku bunga bank sentral Amerika Serikat.

Meski demikian, usulan perubahan klasifikasi tersebut tidak serta-merta berarti keputusan final telah ditetapkan. Perkembangan konsultasi MSCI dan respons regulator pasar modal masih perlu dipantau untuk menilai potensi dampaknya terhadap investasi di Indonesia.

Koreksi IHSG dalam sepekan menjadi pengingat bagi investor untuk memperhatikan risiko dan kondisi fundamental sebelum mengambil keputusan. Pergerakan indeks pada pekan berikutnya akan menjadi salah satu indikator untuk melihat apakah tekanan jual berlanjut atau pasar mulai menunjukkan pemulihan.
Baca Juga
• Dolar AS Menguat, Harga Emas Dunia Tertekan ke Level Terendah
• Harga Pertamax dan BBM Nonsubsidi Resmi Turun Mulai 1 Agustus 2026, Simak Daftar Terbarunya
• Harga Cabai Rawit Tembus Rp70 Ribu per Kilogram, Tekan Belanja Rumah Tangga
• Prabowo Soroti Blackout Batam, Danantara Diminta Percepat Transformasi PLN
• Rupiah Melemah ke Rp 18.022 per Dolar AS, BI Tahan Suku Bunga
#IHSG #BursaEfekIndonesia #PasarSaham #EkonomiIndonesia #InvestorAsing #Investasi #PasarModal
Ide Times adalah Portal Media Online yang menyajikan Berita Terkini dan Terbaru seputar Informasi, News Update, Politik, Ekonomi, Humaniora dan Gaya Hidup.