Harga Beras Naik di Sejumlah Wilayah, Bapanas Percepat Penyaluran SPHP

Bagikan
06 November 2026 | Author :
Foto: Beras Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP). (Dok Bapanas)
Harga beras premium dan medium naik di sejumlah wilayah Indonesia. Bapanas meminta Bulog mempercepat penyaluran beras SPHP dan bantuan pangan.
JAKARTA – Harga beras premium dan medium mengalami kenaikan di sejumlah wilayah Indonesia. Menyikapi kondisi tersebut, Badan Pangan Nasional (Bapanas) meminta pemerintah daerah bersama Perum Bulog mempercepat penyaluran beras Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) untuk menjaga keterjangkauan harga di masyarakat.

Deputi Bidang Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Bapanas, Hermawan, mengatakan kenaikan harga terjadi terutama di Zona 2 dan Zona 3. Sementara itu, harga beras di Zona 1 relatif masih terkendali.

"Kami meminta rekan-rekan di daerah untuk mengantisipasinya," kata Hermawan dalam rapat koordinasi bersama pemerintah daerah dan Satgas Pangan Polri di Jakarta, Jumat (6/11/2026).

Bapanas membagi wilayah pemantauan harga beras menjadi tiga zona. Zona 1 mencakup Jawa, Lampung, Sumatera Selatan, Bali, Nusa Tenggara Barat, dan Sulawesi.

Adapun Zona 2 meliputi wilayah Sumatera selain Lampung dan Sumatera Selatan, Nusa Tenggara Timur, serta Kalimantan. Sementara Zona 3 mencakup Maluku dan Papua.

Untuk merespons kenaikan tersebut, Bapanas meminta pemerintah daerah dan Satgas Pangan Polri di 38 provinsi bekerja sama dengan Bulog mempercepat distribusi beras SPHP dan bantuan pangan.

Harga Beras Eceran Capai Rp15.765 per Kilogram

Kenaikan harga beras juga tercermin dalam data Badan Pusat Statistik (BPS). Pada Oktober 2026, rata-rata harga beras di tingkat eceran tercatat Rp15.765 per kilogram.

Sementara itu, harga di tingkat grosir mencapai Rp14.994 per kilogram dan di tingkat penggilingan sebesar Rp14.365 per kilogram.

BPS mencatat harga beras di tingkat penggilingan naik 0,26 persen secara bulanan dan 6,89 persen secara tahunan. Adapun inflasi beras di tingkat eceran mencapai 0,08 persen secara bulanan dan 4,10 persen secara tahunan.

Kondisi tersebut menunjukkan tekanan harga masih terjadi di sepanjang rantai distribusi, meskipun tingkat kenaikannya berbeda pada setiap tingkatan perdagangan.

Stok Bulog Diproyeksikan Capai 3,8 Juta Ton

Di tengah kenaikan harga, pemerintah menyatakan cadangan beras yang dikelola Bulog masih memadai untuk mendukung intervensi pasar.

Bapanas memperkirakan stok Cadangan Beras Pemerintah (CBP) dapat mencapai 3,8 juta ton hingga akhir 2026.

Bulog juga telah merealisasikan penyaluran tahap pertama beras SPHP sebanyak 828 ribu ton hingga minggu keempat September 2026.

Selain itu, terdapat penugasan tambahan sebanyak 200 ribu ton yang diterbitkan pada akhir September dan pertengahan Oktober. Hingga 5 November 2026, realisasinya mencapai 155,3 ribu ton atau sekitar 77,6 persen.

Pemerintah juga menargetkan penyaluran bantuan pangan beras periode Oktober-Desember mulai berjalan pada November 2026.

Percepatan distribusi tersebut diharapkan dapat menambah pasokan di pasar sekaligus menekan harga beras yang masih mengalami kenaikan di sejumlah daerah.
Baca Juga
• IHSG Anjlok Lebih dari 5%, Peringatan MSCI Guncang Pasar Saham Indonesia
• Harga Cabai Rawit Tembus Rp70 Ribu per Kilogram, Tekan Belanja Rumah Tangga
• IHSG Anjlok 7,03 Persen Sepekan, Kapitalisasi Pasar BEI Susut Rp721 Triliun
• Rupiah Menguat Tipis ke Rp17.577 per Dolar AS, Pasar Tunggu Data Inflasi AS
• Harga BBM Pertamina Non-Subsidi Naik Lagi, Pertamax Green Tembus Rp19.150 per Liter
#HargaBeras #Bapanas #Bulog #SPHP #Pangan #EkonomiIndonesia
Ide Times adalah Portal Media Online yang menyajikan Berita Terkini dan Terbaru seputar Informasi, News Update, Politik, Ekonomi, Humaniora dan Gaya Hidup.