Bandara Soekarno-Hatta Terdampak Erupsi Anak Krakatau, Puluhan Penerbangan Terganggu

Bagikan
06 September 2026 | Author :
Foto: penutupan Bandara Soekarno-Hatta/Antara
Bandara Soekarno-Hatta terdampak sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau. Puluhan penerbangan terganggu dan operasional bandara ditutup sementara
TANGERANG – Operasional penerbangan di Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten, terganggu akibat sebaran abu vulkanik dari erupsi Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda.

Penutupan sementara dilakukan sebagai langkah keselamatan setelah indikasi abu vulkanik terdeteksi di area bandara. Berdasarkan laporan Kementerian Perhubungan, penutupan tersebut dilakukan berdasarkan hasil pemeriksaan yang menunjukkan adanya sebaran abu vulkanik pada Minggu (6/9/2026).

Kondisi tersebut berdampak pada puluhan penerbangan, baik rute domestik maupun internasional. Data InJourney Airports mencatat terdapat 33 penerbangan terdampak di Bandara Soekarno-Hatta.

Dari jumlah tersebut, penerbangan internasional mencakup 16 pembatalan, tujuh penundaan, dan lima penerbangan yang dijadwalkan ulang. Sementara itu, pada rute domestik terdapat empat pembatalan dan satu penerbangan yang dialihkan ke bandara lain.

Penutupan Bandara Diperpanjang

Penutupan operasional Bandara Soekarno-Hatta sempat dijadwalkan berlangsung hingga pukul 05.30 WIB. Namun, perkembangan sebaran abu vulkanik membuat penghentian operasional diperpanjang.

Reuters melaporkan Bandara Soekarno-Hatta kemudian memperpanjang penghentian penerbangan hingga pukul 09.30 WIB. Kebijakan tersebut diambil setelah abu vulkanik Anak Krakatau terdeteksi di kawasan bandara.

BNPB dalam pembaruan pada Minggu pagi juga mencatat Bandara Soekarno-Hatta ditutup sementara pada pukul 02.08 hingga 09.30 WIB. Selain Soetta, sejumlah bandara lain turut ditutup sementara sebagai langkah antisipasi terhadap dampak abu vulkanik.

Kementerian Perhubungan menegaskan bahwa aspek keselamatan menjadi pertimbangan utama dalam menentukan kelanjutan operasional penerbangan.

Abu Vulkanik Menyebar hingga Jakarta

Erupsi Gunung Anak Krakatau tidak hanya berdampak terhadap kawasan sekitar Selat Sunda. BMKG mendeteksi sebaran abu vulkanik yang meluas hingga Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, Lampung, Bengkulu dan wilayah perairan di sekitarnya.

Berdasarkan analisis citra satelit pada Minggu pagi, terdapat dua klaster utama abu vulkanik. Pada ketinggian sekitar 20.000 kaki, abu bergerak ke arah timur laut hingga selatan. Sementara itu, material pada ketinggian hingga 50.000 kaki bergerak ke arah barat daya hingga barat laut.

Kondisi tersebut menjadi perhatian serius bagi keselamatan penerbangan karena partikel abu vulkanik dapat membahayakan mesin pesawat serta sistem penerbangan apabila memasuki jalur penerbangan.

BMKG juga terus menerbitkan Significant Meteorological Information (SIGMET) untuk memberikan informasi mengenai kondisi abu vulkanik kepada sektor penerbangan. Hingga Minggu, BMKG menyatakan telah menerbitkan 50 SIGMET secara berkala terkait perkembangan sebaran abu.

Maskapai Lakukan Penyesuaian Jadwal

Gangguan di Soekarno-Hatta turut memicu penyesuaian jadwal penerbangan oleh maskapai. Sejumlah penerbangan internasional yang terdampak mencakup rute dari dan menuju Singapura, Hong Kong, Sydney, Seoul, Doha, Amsterdam, dan Kuala Lumpur.

Untuk penerbangan domestik, gangguan antara lain terjadi pada rute Lampung, Denpasar, dan Surabaya.

Kemenhub juga mengantisipasi dampak berantai akibat gangguan tersebut. Penutupan bandara dapat memengaruhi rotasi pesawat, ketersediaan armada, jadwal penerbangan berikutnya, hingga kapasitas terminal.

Karena itu, proses pemulihan operasional dilakukan secara bertahap dengan mempertimbangkan kondisi sebaran abu vulkanik dan informasi keselamatan penerbangan.

Erupsi Anak Krakatau Masih Berlangsung

Di sisi lain, aktivitas Gunung Anak Krakatau masih terus dipantau. BNPB menyebut erupsi menerus mulai teramati sejak Jumat (4/9/2026) malam dan disertai suara gemuruh atau dentuman serta fenomena lava fountain.

PVMBG juga mencatat aktivitas erupsi yang masih berlangsung. Pada periode pengamatan 5 September 2026, tercatat aktivitas gempa letusan menerus dengan amplitudo maksimum 70 milimeter dan durasi mencapai sekitar enam jam.

Reuters melaporkan erupsi tersebut juga menyebabkan penghentian penerbangan di enam bandara dan berdampak terhadap 301 penerbangan secara keseluruhan, termasuk penerbangan internasional.

Masyarakat di wilayah yang berpotensi terdampak abu vulkanik diimbau tetap mengikuti informasi resmi dari pemerintah. Sementara penumpang pesawat diminta memantau informasi terbaru dari maskapai dan pengelola bandara sebelum menuju lokasi keberangkatan.
Baca Juga
• Gedung Bapenda DKI Terbakar, Api Merambat hingga Lantai 16, Layanan Publik Tetap Berjalan
• Polisi Berlakukan Sistem 'One Way' Lebih Awal di Jalur Puncak ke Jakarta
• Terduga Pencuri Ayam Tewas Dikeroyok Massa di Bali, Polisi Tetapkan Lima Tersangka
• Pasien BPJS Meninggal Diduga Dicibir Nakes, KKI Turun Tangan dan Menkes Sampaikan Keprihatinan
• Earth Hour 2026 Malam Ini, Dunia Diajak Matikan Lampu Selama Satu Jam
#GunungAnakKrakatau #AnakKrakatau #Erupsi #SoekarnoHatta #BandaraSoekarnoHatta #AbuVulkanik #Penerba
Ide Times adalah Portal Media Online yang menyajikan Berita Terkini dan Terbaru seputar Informasi, News Update, Politik, Ekonomi, Humaniora dan Gaya Hidup.