IHSG dan Rupiah Kompak Melemah, Pasar Tahan Napas Jelang Keputusan The Fed
Bagikan
14 September 2026 | Author :
Foto: Ilustrasi/Suaracom
IHSG dan rupiah kompak melemah pada perdagangan Senin (14/9/2026), tertekan lonjakan harga minyak dunia dan sikap wait and see pasar jelang keputusan suku bunga The Fed pekan ini.
JAKARTA — Pasar keuangan Indonesia mengawali pekan ini dengan tekanan. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka melemah pada perdagangan Senin (14/9/2026), seiring nilai tukar rupiah yang juga tergelincir terhadap dolar Amerika Serikat. Pelaku pasar tampak memilih sikap wait and see menjelang keputusan suku bunga acuan bank sentral AS, The Fed, yang dijadwalkan diumumkan pekan ini.
Pada pembukaan perdagangan, IHSG terkoreksi ke posisi 6.533, turun tipis dari penutupan pekan lalu. Pelemahan senada juga terjadi pada indeks LQ45 yang menghimpun 45 saham unggulan di bursa. Koreksi hari ini melanjutkan tren pelemahan yang sudah berlangsung sepanjang pekan sebelumnya, di mana IHSG tercatat turun lebih dari satu persen secara point-to-point sejak awal pekan lalu, diiringi aksi jual bersih investor asing senilai triliunan rupiah.
Sejumlah analis pasar modal menilai level 6.530 menjadi titik krusial bagi pergerakan indeks dalam beberapa hari ke depan. Jika gagal bertahan di level tersebut, IHSG berpotensi melanjutkan koreksi menuju kisaran 6.425 hingga 6.377. Sebaliknya, apabila indeks mampu rebound dan menembus level 6.592, peluang penguatan lanjutan menuju kisaran 6.723 sampai 6.859 pun terbuka.
Tekanan serupa juga dirasakan mata uang Garuda. Rupiah tercatat melemah tipis ke level Rp17.647 per dolar AS, meski posisi ini masih jauh lebih baik dibandingkan pertengahan Juni lalu saat nilai tukar sempat anjlok menembus Rp18.000 per dolar AS. Pelemahan jangka pendek rupiah hari ini terutama dipicu oleh lonjakan harga minyak dunia, setelah harga minyak mentah Brent melonjak sekitar tiga persen ke level 107 dolar AS per barel akibat serangan terhadap infrastruktur energi di Arab Saudi yang mendongkrak premi risiko geopolitik di pasar global.
Sebagai negara pengimpor minyak mentah dalam jumlah besar, Indonesia rentan terkena dampak lonjakan harga energi global tersebut, yang pada gilirannya turut membebani nilai tukar rupiah. Di sisi lain, sedikit angin segar datang dari meredanya sebagian ketegangan geopolitik antara AS dan Iran di kawasan Teluk Persia, menyusul rencana pertemuan di Oman terkait isu Selat Hormuz, yang membantu menahan laju kenaikan harga minyak agar tidak semakin tajam.
Kondisi makroekonomi domestik turut menambah sentimen negatif. Indeks Ekspektasi Kondisi Makroekonomi kuartal III-2026 tercatat merosot signifikan, sementara aktivitas manufaktur nasional sudah memasuki zona kontraksi. Situasi ini memunculkan kekhawatiran akan potensi kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI-Rate) guna menjaga stabilitas rupiah, di tengah ancaman inflasi dari sektor energi dan pangan akibat fenomena El Nino.
Para pelaku pasar kini menanti arah kebijakan The Fed pekan ini sebagai penentu sentimen jangka pendek, baik bagi pergerakan IHSG maupun nilai tukar rupiah ke depan.
Ide Times adalah Portal Media Online yang menyajikan Berita Terkini dan Terbaru seputar Informasi, News Update, Politik, Ekonomi, Humaniora dan Gaya Hidup.