Jepang Olah Baterai Uranium dari Limbah Radioaktif

Bagikan
24 Maret 2025 | Author : Susan Susanti
Foto: ijiwei.com
Inovasi ini diharapkan dapat memanfaatkan sejumlah besar bahan radioaktif yang dihasilkan selama pembuatan bahan bakar nuklir
Lembaga penelitian yang menangani pengembangan nuklir di Jepang telah menciptakan baterai yang dapat diisi ulang pertama di dunia dengan menggunakan uranium.

Inovasi ini diharapkan dapat memanfaatkan sejumlah besar bahan radioaktif yang dihasilkan selama pembuatan bahan bakar nuklir.

Menurut pernyataan dari Badan Energi Atom Jepang, tim ilmuwan telah menguji kemampuan pengisian dan pengosongan pada baterai yang memanfaatkan uranium sebagai 'bahan aktif' untuk menghasilkan reaksi kimia yang menghasilkan energi listrik.

Uranium yang digunakan dalam studi ini memiliki sifat kimia yang serupa dengan uranium terdeplesi, yang merupakan hasil sampingan dari proses pengayaan uranium alami untuk bahan bakar nuklir.

Saat ini, uranium terdeplesi tidak dapat dimanfaatkan sebagai bahan bakar di reaktor konvensional.

"Diharapkan hasil ini dapat memberikan nilai baru bagi uranium terdeplesi," ujar lembaga tersebut dalam rilis pers, menyoroti juga potensi baterai untuk menyimpan energi berlebih dari sumber energi terbarukan.

Baterai yang memiliki dimensi lebar 10 sentimeter dan tinggi 5 sentimeter ini menggunakan elektrolit yang mengandung uranium sebagai elektroda negatif, sementara elektrolit dengan kandungan besi berfungsi sebagai elektroda positif.
Prototipe tersebut memiliki tegangan 1,3 V, mendekati tegangan baterai alkaline standar 1,5 V.

Baterai diisi dan dikosongkan sebanyak 10 kali, dan kinerja baterai hampir tidak berubah, yang menunjukkan stabilitas relatifnya, kata lembaga tersebut.

Jika baterai isi ulang uranium itu ditingkatkan dan digunakan secara praktis, baterai tersebut dapat membantu memanfaatkan sekitar 16.000 ton uranium terdeplesi yang disimpan di Jepang dan sekitar 1,6 juta ton di seluruh dunia, kata lembaga tersebut.

Untuk meningkatkan kapasitas baterai, lembaga tersebut berencana mengembangkan 'baterai aliran redoks' yang mengedarkan elektrolit menggunakan pompa, dimulai pada tahun fiskal 2025 atau setelahnya.

Namun, pemasangan baterai tersebut diharapkan terbatas pada area dengan radiasi yang terkendali, seperti lokasi pembangkit listrik tenaga nuklir.
Baca Juga
• Google Akan Segera Rilis Android 16, Ini Bocoran Fitur Barunya
• Teknologi Dapur Terbaru Tahun 2025, Tawarkan Penghisap Asap Pintar dan Oven Multifungsi
• Wajib Tahu! Begini Cara Mengatasi Layar HP Berwarna Ungu
• Samsung Keluarkan Seri Terbaru, Galaxy Ultra dan Plus Diprediksi Akan Dihapus
• Meta Capai Laba Rp986 Triliun Setalah PHK 3.600 Karyawan Demi Fokus AI
#Jepang #Baterai #Uranium #Limbah #Radioaktif #teknologi #update
05 November 2024
Jejak Digital Bisa Jadi Petaka, Kenali Tips Bijak Bermedia Soisal
25 Agustus 2024
Samsung Keluarkan Seri Terbaru, Galaxy Ultra dan Plus Diprediksi Akan Dihapus
21 Maret 2025
Terbaru! Tren Proyektor Pintar Bisa Jadi Pengganti TV Layar Besar
28 Juni 2024
X Masih Bisa Diakses dan Tampilkan Konten Dewasa, Kominfo Sebut ad Prasyarat Khusus
05 November 2024
Perbedaan iPhone 14 dan Pro Max, Intip Spesifikasi dan Harga Terbaru!
23 Juli 2024
WhatsApp Bisa Digunakan Tanpa Nomor Telepon, Begini Penjelasannya
BERITA LAINNYA
Kesehatan Sering Pusing? Waspada Bisa Jadi Gejala Awal Kolesterol
Infotainment Rayakan Ulang Tahun Sang Ayah, Cinta Laura Ungkap Hal Ini
Kriminal Penyingkapan! Inilah alasan anak anggota partai DPR itu membunuh pacarnya secara brutal
Infotainment Mayang Pamer Selfie Bareng Dengan Fuji, Ini Kata Dody Sudrajat
Politik Tak Ikut Jejak Jokow, Ini Alasan Kaesang Masuk PSI
Ide Times adalah Portal Media Online yang menyajikan Berita Terkini dan Terbaru seputar Informasi, News Update, Politik, Ekonomi, Humaniora dan Gaya Hidup.