Ratusan Siswa di Karo Diduga Keracunan MBG, Hasil Lab Temukan Tiga Bakteri

Bagikan
08 September 2026 | Author :
Foto: Dok. Dinkes/Detikcom
Siswa di Kabupaten Karo mengikuti kegiatan belajar setelah kasus dugaan keracunan MBG.
KARO – Kasus dugaan keracunan setelah mengonsumsi Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Karo, Sumatera Utara, kembali menjadi sorotan. Ratusan siswa mengalami gangguan kesehatan setelah menyantap menu MBG yang dibagikan di sejumlah sekolah di Kecamatan Berastagi pada Agustus 2026.

Perkembangan terbaru terungkap dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) di Gedung DPRD Kabupaten Karo, Senin (7/9/2026). Dalam forum tersebut, Dinas Kesehatan Kabupaten Karo memaparkan hasil pemeriksaan laboratorium terhadap sejumlah sampel makanan yang dikonsumsi siswa.

Hasil pemeriksaan UPTD Laboratorium Kesehatan Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Utara menunjukkan adanya tiga jenis bakteri pada beberapa sampel makanan yang telah disajikan kepada siswa.

Berdasarkan hasil pemeriksaan bernomor 008.2/4129/UPTD LABKES/VIII/2026 tertanggal 16 Agustus 2026, bakteri Bacillus cereus ditemukan pada sampel nasi.

Sementara itu, sampel ikan dencis dengan saus yang diambil dari sekolah dinyatakan positif mengandung Staphylococcus aureus. Adapun sampel buah melon terdeteksi mengandung Escherichia coli (E. coli).

Berawal dari Gangguan Kesehatan Siswa

Kasus tersebut bermula pada Kamis (13/8/2026), ketika sejumlah siswa di Berastagi mengalami gangguan kesehatan setelah mengonsumsi menu MBG.

Pada awal kejadian, siswa dilaporkan mengalami gejala seperti gatal pada mulut, rasa getir, gatal pada kulit hingga sesak napas. Menu yang disajikan saat itu antara lain sayur kol, wortel dan gulai ikan dencis.

Makanan tersebut berasal dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang melayani sejumlah sekolah di wilayah Karo.

Data awal mencatat sebanyak 265 siswa dari tiga sekolah mengalami gangguan kesehatan. Jumlah tersebut kemudian bertambah seiring munculnya gejala pada siswa lainnya.

Gubernur Sumatera Utara Bobby Nasution pada 14 Agustus 2026 menyebut jumlah siswa yang terdampak telah mencapai 353 orang. Pemerintah daerah menyatakan kasus tersebut sebagai kejadian serius karena berdampak terhadap anak-anak sekolah.

Sampel Makanan dari Sekolah Positif Bakteri

Hasil pemeriksaan laboratorium yang dipaparkan dalam RDP menjadi perkembangan penting dalam penanganan kasus tersebut.

Selain menemukan bakteri pada makanan, pemeriksaan terhadap sampel biologis korban juga menunjukkan adanya bakteri tertentu. Berdasarkan pemberitaan mengenai hasil laboratorium tersebut, Bacillus cereus juga ditemukan pada sampel sisa muntahan salah seorang korban.

Namun, temuan bakteri pada sampel makanan tidak serta-merta berarti seluruh gangguan kesehatan yang dialami setiap korban telah terbukti secara medis disebabkan oleh bakteri tersebut. Hubungan sebab-akibat pada masing-masing korban tetap membutuhkan pemeriksaan dan penilaian medis lebih lanjut.

Hal lain yang menjadi perhatian adalah perbedaan hasil antara sampel makanan dari dapur penyedia dan sampel yang diambil setelah makanan berada di sekolah. Sejumlah laporan mengenai hasil pemeriksaan menyebut sampel dari sumber pengolahan tidak menunjukkan temuan bakteri yang sama, sementara beberapa makanan yang telah berada di sekolah justru terdeteksi positif.

Kondisi tersebut membuka kemungkinan perlunya pemeriksaan lebih lanjut terhadap seluruh rantai distribusi makanan, mulai dari pengangkutan, penyimpanan sementara, hingga proses penyajian sebelum makanan dikonsumsi siswa.

Orang Tua Minta Penanganan dan Kepastian

Dalam RDP DPRD Karo, para orang tua siswa korban mempertanyakan penanganan kasus dan meminta pemerintah memberikan kepastian mengenai penyebab gangguan kesehatan yang dialami anak-anak mereka.

Orang tua juga meminta agar biaya pengobatan korban ditanggung pemerintah dan pihak yang bertanggung jawab. Mereka turut mendesak adanya kejelasan mengenai proses hukum serta evaluasi terhadap pelaksanaan MBG di wilayah tersebut.

Kasus tersebut sebelumnya juga telah dibawa ke jalur hukum. Perwakilan orang tua siswa membuat laporan pengaduan ke Polres Karo pada 31 Agustus 2026 untuk meminta kepolisian mengusut penyebab dugaan keracunan secara transparan.

Pemerintah Diminta Pastikan Keamanan MBG

Insiden di Karo menambah daftar kasus gangguan kesehatan yang dikaitkan dengan konsumsi makanan dalam program MBG. Karena program tersebut menyasar anak-anak sekolah dalam jumlah besar, aspek keamanan pangan menjadi salah satu hal yang mendapat perhatian serius.

Pemeriksaan tidak hanya diperlukan terhadap bahan makanan, tetapi juga terhadap standar pengolahan, pengemasan, distribusi, penyimpanan dan penyajian makanan di sekolah.

Badan Gizi Nasional (BGN) sebelumnya telah mengambil sampel makanan dalam kasus Karo untuk dilakukan pemeriksaan. Saat kejadian pertama dilaporkan, pihak terkait menyatakan penyebab gangguan kesehatan belum dapat dipastikan dan masih menunggu hasil pemeriksaan.

Dengan adanya temuan laboratorium dan tuntutan dari para orang tua, pemerintah daerah bersama aparat penegak hukum kini menghadapi tuntutan untuk mengungkap secara menyeluruh penyebab kejadian tersebut serta memastikan keselamatan siswa penerima program MBG.

Bagi para orang tua, kepastian mengenai penyebab kejadian dan jaminan pengobatan korban menjadi persoalan utama yang harus segera diselesaikan
Baca Juga
• Kapan Lebaran 2026? Ini Jadwal Sidang Isbat Penentuan 1 Syawal 1447 H
• Kabut Asap Karhutla Selimuti Banjarbaru, Jarak Pandang Warga Menurun Drastis
• Pascagempa M7,7 NTT, Lebih dari 5.000 Warga Masih Bertahan di Pengungsian
• Polisi Berlakukan Sistem 'One Way' Lebih Awal di Jalur Puncak ke Jakarta
• Gempa Susulan di Flores Tembus 4.258 Kali, BMKG: Aktivitas Bisa Berlangsung hingga 4 Minggu
#MBG #MakanBergiziGratis #Karo #SumateraUtara #KeracunanMakanan #Siswa #BeritaTerkini #BeritaIndones
Ide Times adalah Portal Media Online yang menyajikan Berita Terkini dan Terbaru seputar Informasi, News Update, Politik, Ekonomi, Humaniora dan Gaya Hidup.