Less Is More? Chanel Bawa Konsep Barefoot ke Karpet Merah
Bagikan
26 Agustus 2026 | Author :
Foto: Angelica Hicks/Instagram; Lia Toby/Getty; Remi /Dewi Magazine
Chanel membawa konsep barefoot ke karpet merah lewat desain sepatu nyaris tanpa alas yang dikenakan Margaret Qualley dan menjadi sorotan dunia fashion.
Dunia fashion kembali membuktikan bahwa sebuah pernyataan besar tidak selalu membutuhkan banyak material. Chanel menjadi sorotan lewat desain alas kaki yang tampil nyaris seperti tidak ada, membawa konsep barefoot dari panggung peragaan ke karpet merah.
Desain tersebut mencuri perhatian setelah aktris Margaret Qualley mengenakannya saat menghadiri pemutaran perdana film The Dog Stars di London pada 20 Agustus 2026.
Sekilas, Qualley terlihat seperti berjalan tanpa sepatu. Namun, jika diperhatikan lebih dekat, terdapat detail kulit yang membungkus bagian tumit, tali yang mengikat pergelangan kaki, serta struktur hak yang menopang langkahnya.
Hampir seluruh bagian depan kaki dibiarkan terbuka. Tidak ada sol konvensional yang menutupi telapak secara penuh. Inilah yang membuat desain tersebut tampak seperti sebuah ilusi: apakah itu benar-benar sepatu, atau hanya aksesori yang menempel di kaki?
Ketika Less Really Means More
Konsep less is more bukan hal baru dalam dunia fashion. Namun, Chanel membawa gagasan minimalisme ke arah yang lebih ekstrem melalui desain barefoot sandals ini.
Alih-alih menambahkan ornamen atau siluet yang rumit, desain tersebut justru mengurangi hampir seluruh elemen yang biasanya menjadi identitas sebuah sepatu. Hasilnya adalah alas kaki yang tetap memiliki fungsi struktural, tetapi secara visual memberikan kesan bertelanjang kaki.
Desain ini pertama kali menarik perhatian melalui koleksi Chanel Resort 2027. Saat muncul di atas runway, bentuknya sudah menjadi salah satu elemen yang paling tidak biasa dalam koleksi tersebut.
Namun, kehadiran Margaret Qualley di karpet merah membuat konsep tersebut memasuki ruang yang berbeda. Jika di runway desain eksperimental dapat diterima sebagai bagian dari pertunjukan, mengenakannya dalam acara publik menjadikan barefoot sandals sebagai sebuah fashion statement yang lebih nyata.
Margaret Qualley dan Momen Barefoot Chanel
Dalam penampilannya di London, Qualley memadukan sandal unik tersebut dengan gaun hitam Chanel yang memiliki detail dramatis. Kombinasi itu membuat perhatian tidak hanya tertuju pada busananya, tetapi juga pada pilihan alas kaki yang nyaris tak terlihat.
Kontras antara gaun formal dan kaki yang tampak hampir telanjang menciptakan kesan yang tidak biasa. Di tengah tradisi karpet merah yang identik dengan gaun glamor dan sepatu hak tinggi, Chanel justru menawarkan pendekatan yang lebih minimal.
Bukan berarti tampil sederhana. Justru karena kesederhanaannya yang ekstrem, desain tersebut berhasil menjadi pusat perhatian.
Pilihan Qualley menunjukkan bagaimana sebuah item fashion tidak selalu harus mencolok melalui warna atau ornamen. Dalam beberapa kasus, menghilangkan elemen justru bisa menciptakan efek visual yang lebih kuat.
Sepatu atau Sebuah Ilusi?
Reaksi terhadap desain tersebut pun beragam. Sebagian melihatnya sebagai eksperimen kreatif yang segar, sementara yang lain mempertanyakan sisi praktis dari alas kaki yang membiarkan sebagian besar telapak kaki terbuka.
Perdebatan tersebut tampaknya menjadi bagian dari daya tariknya.
Dalam industri fashion, desain yang berhasil menciptakan percakapan sering kali memiliki kehidupan yang lebih panjang daripada sekadar tren musiman. Barefoot sandals Chanel tidak hanya menawarkan bentuk baru, tetapi juga mempertanyakan kembali definisi dasar tentang sebuah sepatu.
Haruskah alas kaki selalu menutupi telapak? Seberapa jauh fungsi dapat dikurangi sebelum sebuah sepatu berubah menjadi sekadar aksesori?
Pertanyaan-pertanyaan itulah yang membuat desain ini lebih dari sekadar produk fashion.
Minimalisme yang Menjadi Statement
Di tengah tren naked dressing, sandal tipis, dan estetika yang semakin mengedepankan kesan ringan, barefoot sandals Chanel bisa dilihat sebagai bentuk lanjutan dari gagasan tersebut.
Fashion tampaknya semakin tertarik pada konsep barely there—busana dan aksesori yang hadir secara minimal, tetapi tetap menciptakan dampak visual maksimal.
Chanel membawa pendekatan itu hingga ke kaki.
Apakah desain ini akan berkembang menjadi tren yang lebih luas masih menjadi pertanyaan. Tidak semua eksperimen runway berakhir sebagai tren yang dikenakan sehari-hari.
Namun, keberhasilan sebuah karya fashion tidak selalu diukur dari seberapa banyak orang yang akan memakainya.
Terkadang, cukup dengan membuat orang berhenti, melihat dua kali, lalu bertanya, “Apakah dia benar-benar memakai sepatu?”
Dan untuk sebuah rumah mode seperti Chanel, mungkin itulah inti dari less is more: semakin sedikit yang terlihat, semakin besar percakapan yang tercipta.
Ide Times adalah Portal Media Online yang menyajikan Berita Terkini dan Terbaru seputar Informasi, News Update, Politik, Ekonomi, Humaniora dan Gaya Hidup.