Impor Emas Indonesia Capai US$55,3 Juta pada September 2026
Bagikan
02 November 2026 | Author :
Foto: Karyawati memperlihatkan emas logam mulia Antam di Butik Emas ANTAM. Sumber (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)
BPS mencatat impor emas Indonesia mencapai US$55,3 juta pada September 2026. Hong Kong menjadi pemasok terbesar, disusul Uni Emirat Arab dan Jepang.
Jakarta – Impor emas Indonesia mencapai 442,7 kilogram dengan nilai US$55,3 juta atau sekitar Rp1 triliun pada September 2026. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan Hong Kong menjadi negara asal impor emas terbesar pada periode tersebut.
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, menyampaikan data impor emas itu dalam konferensi pers di Jakarta, Senin (2/11/2026). Komoditas emas yang dicatat dalam data tersebut termasuk kategori kode HS 7108.
Hong Kong menyumbang impor emas senilai US$22,44 juta dengan volume 160 kilogram. Nilai tersebut menjadikan Hong Kong sebagai pemasok emas terbesar Indonesia pada September 2026.
Uni Emirat Arab (UEA) menempati posisi berikutnya dengan nilai impor US$14,55 juta atau sekitar 101 kilogram. Sementara itu, impor emas dari Jepang mencapai US$6,77 juta dengan volume 67,87 kilogram.
Perbedaan nilai dan volume impor dari masing-masing negara menunjukkan bahwa perdagangan emas tidak hanya dipengaruhi oleh jumlah barang yang masuk, tetapi juga nilai komoditas yang diperdagangkan.
Harga Emas Masih Lebih Tinggi Secara Tahunan
Ateng menjelaskan, harga emas pada September 2026 masih menunjukkan kenaikan jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya. Kondisi tersebut terjadi karena harga emas pada tahun lalu relatif lebih rendah.
Namun, jika dibandingkan dengan bulan sebelumnya, harga emas mengalami penurunan selama dua bulan terakhir.
Pergerakan harga tersebut menjadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan dalam membaca perkembangan perdagangan emas. Meski demikian, data impor September saja belum cukup untuk menyimpulkan bahwa perubahan harga menjadi penyebab utama naik atau turunnya volume impor.
Neraca Perdagangan Indonesia Masih Surplus
Di tengah aktivitas impor emas, neraca perdagangan barang Indonesia secara keseluruhan masih mencatat surplus.
BPS melaporkan surplus perdagangan sebesar US$3,36 miliar pada September 2026. Dengan demikian, surplus kumulatif sepanjang Januari hingga September 2026 mencapai US$10,61 miliar.
Surplus tersebut terutama ditopang oleh perdagangan nonmigas yang mencatat kelebihan sebesar US$34,21 miliar. Sebaliknya, sektor migas mengalami defisit sebesar US$23,60 miliar selama periode yang sama.
BPS juga mencatat nilai ekspor Indonesia sepanjang Januari–September 2026 mencapai US$221,23 miliar, meningkat 5,58 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Sementara itu, nilai impor mencapai US$210,63 miliar atau tumbuh 19,67 persen secara tahunan.
Data tersebut menunjukkan bahwa pertumbuhan impor secara keseluruhan lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan ekspor. Meski demikian, Indonesia masih mempertahankan surplus perdagangan kumulatif hingga September 2026.
Impor emas senilai US$55,3 juta menjadi salah satu bagian dari aktivitas perdagangan luar negeri Indonesia. Untuk mengetahui dampaknya terhadap neraca perdagangan secara lebih luas, diperlukan analisis lanjutan mengenai perkembangan impor emas, ekspor komoditas terkait, serta pergerakan harga emas dalam periode berikutnya.
Ide Times adalah Portal Media Online yang menyajikan Berita Terkini dan Terbaru seputar Informasi, News Update, Politik, Ekonomi, Humaniora dan Gaya Hidup.