Emisi Karhutla Indonesia Tertinggi di Dunia, Tiga Kali Lipat Brasil

Bagikan
23 Oktober 2026 | Author :
Foto: Ilustrasi kabut polusi yang menyelimuti kawasan perkotaan/unsplash
Emisi karbon karhutla Indonesia mencapai 653,5 juta ton CO? hingga 20 Oktober 2026, tertinggi dalam periode yang sama sejak 2016.
JAKARTA – Indonesia mencatat emisi karbon dari kebakaran hutan dan lahan (karhutla) tertinggi di dunia pada Oktober 2026. Data pemantauan atmosfer Uni Eropa menunjukkan emisi harian dari kebakaran di Indonesia mencapai lebih dari tiga kali lipat dibandingkan Brasil yang berada di posisi kedua.

Mengutip laporan Katadata pada Rabu (21/10/2026), data Copernicus Atmosphere Monitoring Service (CAMS) memperkirakan emisi karbon dari karhutla Indonesia mencapai 2.651 kiloton per hari selama periode 1–20 Oktober 2026.

Pada periode yang sama, Brasil mencatat emisi sekitar 802 kiloton karbon per hari. Australia berada di urutan berikutnya dengan 369 kiloton per hari.

Tingginya emisi tersebut menunjukkan besarnya dampak kebakaran yang melanda Indonesia sepanjang tahun ini, terutama di tengah kondisi cuaca panas dan kering yang meningkatkan risiko kebakaran di sejumlah wilayah.

Emisi Karhutla Melampaui Tahun-Tahun Sebelumnya

Secara kumulatif, emisi karbon dari karhutla Indonesia sejak 1 Januari hingga 20 Oktober 2026 mencapai sekitar 178,22 juta ton karbon. Jumlah tersebut setara dengan sekitar 653,5 juta ton karbon dioksida (CO?).

Menurut data CAMS yang dikutip Katadata, angka tersebut menjadi yang tertinggi untuk periode yang sama dalam 11 tahun terakhir, sejak 2016.

Kebakaran hutan dan lahan tidak hanya melepaskan gas rumah kaca ke atmosfer, tetapi juga menghasilkan asap dan partikel yang dapat menurunkan kualitas udara. Dampaknya dapat dirasakan masyarakat di sekitar lokasi kebakaran maupun wilayah lain yang terpapar asap.

CAMS juga mencatat bahwa kebakaran di lahan pertanian dan gambut menjadi sumber penting emisi serta asap yang memengaruhi kualitas udara di Indonesia dan negara tetangga, termasuk Malaysia dan Singapura.

El Niño Memperburuk Risiko Kebakaran

Fenomena El Niño turut memperparah kondisi panas dan kering yang meningkatkan risiko kebakaran. Namun, faktor cuaca bukan satu-satunya penyebab karhutla.

Kerusakan ekosistem gambut dan pengeringan lahan untuk kegiatan pertanian dapat membuat tanah lebih mudah terbakar. Ketika kebakaran terjadi di lahan gambut, api juga dapat merambat di bawah permukaan sehingga lebih sulit dideteksi dan dipadamkan.

Sementara itu, laporan Reuters pada 22 Oktober 2026 menyebutkan bahwa Indonesia masih meningkatkan kewaspadaan meskipun jumlah titik panas sempat menurun. Hujan yang turun secara sporadis dinilai belum cukup untuk menghentikan kebakaran sepenuhnya.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa penanganan karhutla membutuhkan upaya pemadaman, pencegahan kebakaran baru, serta perlindungan dan pemulihan ekosistem gambut.

Tingginya emisi pada tahun ini menjadi pengingat bahwa pengendalian karhutla tidak cukup hanya mengandalkan pemadaman ketika api muncul. Pengawasan pembukaan lahan, pengelolaan gambut, dan penegakan hukum terhadap pelanggaran juga menjadi bagian penting untuk mengurangi risiko kebakaran berulang.
Baca Juga
• Update Terbaru Karhutla: Titik Panas Terdeteksi di Sejumlah Wilayah Indonesia
• Asap Karhutla Kalimantan Terdeteksi di Jakarta, BMKG Imbau Warga Waspada
• Deklarasi Bali: Negara ASEAN Sepakat Lindungi Karya Jurnalistik dari Eksploitasi Platform Digital da
• Earth Hour 2026 Malam Ini, Dunia Diajak Matikan Lampu Selama Satu Jam
• Anak Krakatau Erupsi, Abu Vulkanik Capai 50.000 Kaki
#karhutla #kebakaranhutan #emisikarbon #lingkungan #elnino #indonesia
Ide Times adalah Portal Media Online yang menyajikan Berita Terkini dan Terbaru seputar Informasi, News Update, Politik, Ekonomi, Humaniora dan Gaya Hidup.