BNPB Uji Teknologi Dry Ice untuk Atasi Asap Karhutla, Jarak Pandang di Palembang Meningkat
Bagikan
18 Oktober 2026 | Author :
Foto: Petugas menunjukkan material dry ice untuk penanganan asap karhutla/ANTARA/HO-BNPB
BNPB menguji teknologi dry ice untuk membantu mengurangi asap karhutla di Sumatera Selatan. Hasil uji coba akan dievaluasi sebelum diterapkan di daerah lain.
Palembang – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengevaluasi penggunaan teknologi dry ice atau es kering untuk membantu mengurangi dampak asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Sumatera Selatan. Uji coba ini dilakukan sebagai salah satu upaya mengatasi kabut asap yang mengganggu aktivitas masyarakat.
Dalam pelaksanaannya, penyemaian dry ice dilakukan menggunakan pesawat dengan total bahan sekitar 1.600 kilogram. Pemerintah melaporkan adanya peningkatan jarak pandang di sekitar wilayah operasi, dari sekitar 650 meter menjadi 2.800 meter.
Meski demikian, hasil tersebut masih perlu dikaji lebih lanjut untuk memastikan efektivitas teknologi dalam mengurangi konsentrasi asap.
Cara Kerja Teknologi Dry Ice
Dry ice merupakan karbon dioksida dalam bentuk padat yang memiliki suhu sangat rendah. Dalam operasi ini, bahan tersebut digunakan untuk membantu mengganggu lapisan inversi atmosfer, yaitu kondisi ketika lapisan udara menghambat pergerakan asap ke lapisan atmosfer yang lebih tinggi.
Kondisi inversi dapat menyebabkan asap dan polutan terperangkap di dekat permukaan tanah sehingga mengurangi jarak pandang dan memperburuk kualitas udara.
Melalui penyemaian dry ice, pemerintah berharap kondisi atmosfer menjadi lebih mendukung penyebaran asap. Namun, keberhasilan metode ini turut dipengaruhi faktor cuaca, angin, dan kondisi atmosfer di lokasi operasi.
Evaluasi Sebelum Diterapkan di Daerah Lain
BNPB akan mengevaluasi hasil uji coba sebelum memutuskan kemungkinan penerapan teknologi serupa di wilayah lain yang terdampak karhutla.
Penggunaan dry ice diharapkan menjadi salah satu alternatif untuk mengurangi dampak kabut asap. Meski begitu, teknologi tersebut tidak menggantikan pemadaman kebakaran secara langsung maupun upaya pencegahan munculnya titik api baru.
Penanganan karhutla tetap membutuhkan koordinasi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, petugas lapangan, dan masyarakat. Pencegahan pembakaran lahan serta pemadaman sejak dini juga menjadi langkah penting untuk menekan risiko kebakaran berulang.
Sumber referensi: BNPB, Kementerian Komunikasi dan Digital, serta ANTARA
Ide Times adalah Portal Media Online yang menyajikan Berita Terkini dan Terbaru seputar Informasi, News Update, Politik, Ekonomi, Humaniora dan Gaya Hidup.